Kunker Ke Pulau Terluar Indonesia, Teuku Zulkarnain Dengarkan Curhatan Warga
BENGKULU,- Beberapa waktu yang lalu, Wakil Ketua 1 DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, melaksanakan kunjungan kerja atau kunker ke pulau terluar Indonesia yakni Kecamatan pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Dalam kunjungannya ke pulau Enggano itu, Pria kelahiran Aceh tersebut menyerap berbagai aspirasi dan curhatan masyarakat yang ada di pulau terluar Indonesia.
Dalam curhatan nya kepada Waka 1 DPRD Provinsi Bengkulu, Tengku Zulkarnain, Sejumlah persoalan disampaikan masyarakat pulau Enggano, mulai dari kebutuhan jaringan irigasi untuk lahan cetak sawah, kondisi jalan dan jembatan yang rusak, hingga kekurangan ruang kelas dan mes guru di sekolah.
Teuku mengatakan salah satu fokus utama masyarakat berada di wilayah Kahyapu, Pulau Enggano, yang memiliki lahan cetak sawah sekitar 200 hektare.
Menurutnya, sumber air baku di wilayah tersebut sebenarnya sudah tersedia, namun jaringan irigasi belum dibangun.
“Cetak sawah di Kayapu itu yang paling luas, sekitar 200 hektare. Air bakunya sudah ada, tinggal jaringan irigasinya yang belum,” ungkap Teuku.

Ia mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan agar dapat segera direalisasikan pembangunan jaringan irigasi.
“Insya Allah akan masuk pembangunan irigasinya. Karena ini penting untuk mendukung cetak sawah yang ada,” papar Teuku.
Selain irigasi, masyarakat juga mengeluhkan akses jalan menuju daerah transmigrasi di Enggano yang masih membutuhkan perhatian pemerintah.
Teuku menyebut terdapat 18 jembatan di kawasan tersebut yang kondisinya perlu penanganan sesegera mungkin.
“Kami sudah melakukan sidak dan persoalan ini juga sudah kami sampaikan ke Dinas PUPR agar menjadi perhatian khusus,” jelas Teuku.
Dalam kunjungan itu, masyarakat juga menyampaikan kondisi SMA Negeri 6 Enggano yang mengalami kekurangan ruang kelas.
Saat ini, jumlah siswa mencapai 124 orang, sementara ruang belajar yang tersedia hanya tiga kelas.
“Mereka meminta tambahan sekitar tiga ruang kelas karena kondisi sekarang sangat sempit,” kata Teuku.
Tidak hanya itu, kebutuhan mes guru juga menjadi aspirasi dan curhatan masyarakat yang ada di Kecamatan Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.
Saat ini sekolah hanya memiliki tiga mes guru, sementara banyak tenaga pengajar berasal dari luar Enggano.
“Masyarakat meminta tambahan sekitar lima mes guru lagi agar kebutuhan tempat tinggal guru bisa mencukupi,” tambah Teuku.
Di sektor pertanian, petani mengeluhkan serangan hama babi dan burung yang menyebabkan hasil panen tidak maksimal.
Hal ini menurut Teuku, dikarenakan tanaman padi kerap diserang babi sejak masih muda. Sementara padi yang berhasil tumbuh hingga menguning kembali diserang burung.
“Jadi yang dipanen petani itu sisa dari serangan hama babi dan burung. Akibatnya hasil panen sangat sedikit,” ujar Teuku.
Karena itu, masyarakat meminta bantuan pemerintah untuk mengatasi serangan hama, baik melalui teknologi maupun bentuk bantuan lainnya.
Teuku menilai persoalan tersebut harus segera ditangani mengingat program cetak sawah di Enggano mencapai sekitar 800 hektare dan menjadi bagian dari target swasembada pangan daerah.
Ia juga menyebut sebagian lahan di wilayah Malakoni masih bergantung pada air hujan karena belum memiliki sumber irigasi memadai.
“Kalau di Kayapu potensinya besar karena airnya ada. Tinggal membangun jaringan irigasi saja,” tutur Teuku.
Menurutnya, DPRD Provinsi Bengkulu akan mendorong usulan pembangunan jaringan irigasi tersebut ke pemerintah pusat dan kementerian terkait.
“Kita akan usulkan ke kementerian, dan di daerah juga akan kita siapkan agar pembangunan ini bisa segera direalisasikan,” tutup Teuku.
