Kementerian Kehutanan Lakukan Investigasi Penyebab Kematian Harimau Sumatera di MukoMuko
BENGKULU,- Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu saat ini sedang melakukan investigasi atas temuan matinya satu ekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan masyatakat di sebuah genangan di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.
BKSDA Bengkulu yang menerima laporan awal dari masyarakat langsung segera berkoordinasi dengan aparat setempat untuk melakukan penelusuran.
Usai berkoordinasi tim gabungan dari BKSDA Bengkulu bersama Polsek Penarik dan petugas Taman Nasional Kerinci Seblat bergerak ke lokasi penemuan bangkai harimau Sumatera.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, satwa dilindungi tersebut merupakan harimau Sumatera berjenis kelamin jantan yang saat ditemukan dalam kondisi utuh di sebuah genangan air.
Hingga saat ini, tim BKSDA Bengkulu masih melakukan pendalaman terhadap penyebab kematian satwa dilindungi tersebut dengan melakukan nekropsi serta analisis laboratorium.

Selain itu, Tim dokter hewan juga dijadwalkan segera melakukan pemeriksaan di lokasi terhadap bangkai Harimau Sumatera atau Panthera tigris sumatrae.
Dalam proses tersebut petugas gabungan juga sempat mengalami kendala dimana kondisi gelap dan cuaca hujan menyebabkan proses nekropsi tidak memungkingkan untuk dilakukan.
Selain itu juga belum tersedianya es pendingin untuk sampel, membuat pelaksanaan nekropsi direncanakan dilanjutkan pada keesokan harinya yang akan dilakukan di pos Resor Air Hitam.
“Kami menaruh perhatian serius terhadap setiap kejadian yang melibatkan satwa dilindungi, khususnya Harimau Sumatera sebagai spesies kunci. Saat ini tim di lapangan tengah melakukan penanganan dan pendalaman untuk memastikan penyebab kematian, termasuk kemungkinan adanya unsur pelanggaran hukum,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi.
Kementerian Kehutanan memastikan penanganan dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan berbasis ilmiah sebagai bagian dari komitmen menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
